Burung Kedidi besar

Calidris  tenuirostris

Deskripsi Bentuk

Berukuran paling besar, 29 cm, diantara jenis kedidi lainnya. Berwarna keabuan dengan paruh panjang, bagian atas lebih gelap dengan coretan sama. Mahkota bercoret, dada dan sisi tubuh berbintik hitam (dalam masa berbiak tidak terlihat). Tungging dan sayap bergaris putih. Pada musim panas dada terlihat kehitaman dan sayap bergaris merah karat. Iris coklat, paruh hitam, kaki abu-abu kehijauan.

Deskripsi Suara

Rintihan "nhut nhut" parau, juga suara rendah "caker-caker-caker", atau siulan ganda "nyat-nyat".

Kebiasaan

Saat bermigrasi berkelompok dengan jenis kedidi lain (Scolopacidae) dan biru-laut ekor-blorok (Limosa lapponica), pengunjung musim dingin yang mencari makan dalam kelompok. Pengunjung musim dingin yang singgah sebentar di kawasan Wallacea

Nama Inggris:Great Knot
Nama Indonesia:Kedidi besar
Ketinggian:0 - 1600 m
Ekstralimital:
Daerah Sebaran:Sumatera; Kalimantan; Jawa; Bali; Sulawesi; Maluku; Nusa Tenggara; Papua;
Endemik:
Status IUCN:VU
Jenis Dilindungi:Tidak
Status CITES:
Burung Sebaran Terbatas:Tidak
Penyebaran Global:

Berbiak di Siberia timur luat, Rusia dan bermigrasi ke selatan pada musim dingin sejauh Australia sepanjang garis pantai Asia Tenggara termasuk India, Bangladesh, Pakistan dan pantai timur Semenanjung Arab.

Penyebaran lokal:

Pengunjung musim dingin tidak umum di Sunda Besar, beberapa individu tidak berbiak kadang-kadang terlihat pada musim panas. Mungkin terdapat di mana saja di Wallacea pada awal September-Januari dan Maret-akhir April. Tercatat di Sulawesi, Halmahera, Buru, Seram, Ambon, Kep. Lucipara, Sumba, Timor, Moa, Babar, dan Damar. Kawasan Trans-Fly di Papua merupakan lokasi singgah (stopover) utama di bagian tenggara jalur migrasinya.

Suara:
Habitat:

Saat musim dingin kerap mengunjungi gosong lumpur (mudflat) yang luas, gosong pasir dan muara, jarang di danau.

Tekanan:

Daratan yang mengelilingi Yellow Sea (China, Korea Utara dan Korea Selatan) yang merupakan lokasi singgah utama jenis ini terancam mengalami kehilangan luasan dan kualitas habitat lahan basah akibat polusi, berkurangnya air daratan dari sungai-sungai dan gangguan manusia. Jenis ini juga berdampak dari ancaman perubahan iklim karena persebarannya globalnya yang terbatas pada lintang 10o dari tepi benua, dimana 20-50% tipe vegetasi di kawasan tersebut diperhitungkan akan menghilang sejalan dengan penambahan dua kali lipat unsur CO2.

Informasi lainnya:

Diperkirakan 80% dari total populasi telah menurun sejak 10 tahun terakhir, dan hal ini diperkirakan akan terus berlanjut di masa yang akan datang.

Featured Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...